Temu Penguatan Anak dan Keluarga
Tanggal: Senin, 28 November 2016
Topik:


TEPAK, Wahana Belajar Anak dan Orangtua

Oleh : Fetty Familda, S.ST

 

TEPAK, yang merupakan singkatan dari Temu Penguatan Anak dan Keluarga. Apa yang terbayangkan di benak kita semua tentang hal tersebut ?

Kegiatan TEPAK merupakan suatu bentuk kegiatan yang sebenarnya sudah lazim kita dengar. Berbagai instansi pemerintah maupun non pemerintah seringkali melaksanakan kegiatan TEPAK sebagai salah satu bentuk kegiatan pemberdayaan sosial bagi masyarakat di Indonesia. Program Temu Penguatan Anak dan Keluarga ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para orangtua/keluarga yang bertanggungjawab dalam pengasuhan dan perlindungan anak, meningkatkan kepedulian para stake holder terkait dalam memberikan pendampingan sosial kepada masyarakat khususnya dalam hal pengasuhan anak, dan memberikan pemahaman kepada anak mengenai hak-hak mereka. Selain itu, TEPAK juga seringkali dijadikan alternatif kegiatan untuk merespon berbagai masalah sosial dalam masyarakat.

 



 Banyaknya permasalahan sosial yang terjadi khususnya pada anak-anak di Indonesia saat ini semakin membuat kita menjadi ironis. Bagaimana tidak, kenyataan bahwa anak bisa saja diperlakukan secara tidak wajar dari lingkungan terdekatnya sendiri seringkali kita simak di berbagai media setiap harinya. Adapun hal tersebut salah satunya disebabkan oleh berkurang bahkan hilangnya fungsi keluarga sebagai tempat pengasuhan, pendidikan, pemeliharaan, pembinaan, perlindungan dan tumbuh kembang anak sesuai dengan apa yang telah diamanatkan oleh UU No.35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Oleh karena itu, adanya penyelenggaraan Temu Penguatan Anak dan Keluarga (TEPAK) tersebut merupakan suatu upaya untuk mewujudkan kembali keberfungsian sosial dalam keluarga. Upaya tersebut juga semestinya mencakup pengubahan paradigma pengasuhan orangtua terhadap anak, peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan tanggung jawab orangtua/keluarga dan perlindungan anak dari berbagai tindak kekerasan serta mekanisme pemenuhan kebutuhan dasar anak.

Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial telah melahirkan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) dimana salah satu turunan kegiatannya ialah Temu Penguatan Anak dan Keluarga (TEPAK). Sebagai instansi pemerintah yang merespon berbagai permasalahan sosial khususnya anak, Kementerian Sosial RI sudah sejak lama melaksanakan kegiatan TEPAK dalam masyarakat, baik secara langsung maupun melalui pilar-pilar sosial di berbagai daerah. Sejauh ini kegiatan TEPAK acapkali dimanfaatkan sebagai wahana belajar bagi masyarakat khususnya para orangtua dan anak. Bukan hanya itu saja, TEPAK juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan belajarnya para Penyuluh Sosial sebagai “dosen di masyarakat”.

Lalu, mengapa TEPAK dapat dikatakan sebagai wahana belajar?

1.    TEPAK dalam pelaksanaannya memuat beragam kegiatan yang berusaha untuk dapat meningkatkan kapasitas orangtua dalam mewujudkan good parenting. Kegiatan yang dilaksanakan bisa berbentuk penyuluhan, permainan atraktif, role playing, penayangan video edukatif bahkan kegiatan-kegiatan kreatif lainnya yang bisa disesuaikan dengan maksud dan tujuan kegiatan. Pelibatan peserta kegiatan dengan menggunakan teknik-teknik pekerjaan sosial saat kegiatan berlangsung juga dapat dilakukan untuk mempermudah penyampaian materi TEPAK. Melalui berbagai kegiatan tersebut, para orangtua bisa belajar memahami berbagai hal yang disampaikan yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan wawasan para orangtua untuk dapat memberikan pengasuhan terbaik bagi anak yang diharapkan dapat sesuai dengan Standar Nasional Pengasuhan Anak (SNPA).

2.   Para orangtua dapat belajar terlibat dalam suatu perkumpulan/organisasi/komunitas melalui adanya kegiatan TEPAK yang rutin dilakukan dalam beberapa waktu tertentu. Hal ini sebagai wahana belajar juga dapat dijadikan sebagai wahana bersilaturahmi antar warga. Selain itu, Fasilitator kegiatan TEPAK selanjutnnya dapat memberikan kesempatan kepada para orangtua untuk membentuk suatu perkumpulan khusus yang dapat membantu mereka berkomunikasi lebih intens misalnya Self Help Group (Kelompok Bantu Diri). Hal ini akan semakin memberikan dukungan kepada masing-masing orangtua dengan focus permasalahan yang sama.

3. Kegiatan TEPAK merupakan wujud pemenuhan hak partisipatif anak. Kegiatan TEPAK dalam pelaksanaannya dapat dilakukan melalui mekanisme kegiatan Children Development Session (CDS)yang memungkinkan anak untuk dapat menyuarakan pendapatnya. Melalui kegiatan tersebut anak diajak belajar dan berpartisipasi langsung dalam memahami berbagai hal terkait diri anak seperti perkembangan anak, hak anak, dan pembentukan sikap dan perilaku anak.

4.    Penyuluh Sosial dapat memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai lahan basah untuk belajar banyak hal dari masyarakat. Tidaklah salah bila ada yang mengatakan bahwa masyarakat adalah perpustakaannya mereka yang bekerja di bidang sosial. Memahami masyarakat tidak cukup hanya dengan membaca teori-teori dari berbagai referensi, namun kita juga harus belajar menyelami mereka dengan terjun dan terlibat langsung di dalamnya. TEPAK ialah salah satu wahananya. Melalui kegiatan ini, seorang penyuluh sosial akan dapat terus meningkatkan kemampuan dalam membagi pengetahuan dan keterampilannya khususnya dalam hal pengasuhan anak kepada para orangtua. Selain itu, perilaku masyarakat yang heterogen di berbagai daerah dapat dijadikan pengalaman untuk semakin memahami karakteristik sasaran kegiatan penyuluhan sosial. 







Artikel dari PSAA Darussa'adah Aceh
http://darusaadah.depsos.go.id

URL:
http://darusaadah.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=25